Jakarta (KABARIN) - Mendagri sekaligus Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRR) Wilayah Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyatakan fokus utama saat ini adalah mempercepat warga terdampak bisa pindah ke hunian yang lebih layak.
Menurut Tito, warga sebaiknya tidak terlalu lama tinggal di tenda darurat sehingga penanganan hunian disesuaikan dengan tingkat kerusakan rumah, mulai dari ringan, sedang, berat, hingga rumah yang hilang total.
"Yang menjadi atensi kita tentu adalah pengungsi. Karena pengungsi ini harus segera, jangan terlalu lama di tenda," ujarnya di Jakarta, Rabu.
Dalam penyediaan hunian sementara (huntara), Satgas PRR menargetkan pembangunan 17.036 unit. Sampai sekarang, 5.489 unit atau sekitar 32 persen telah rampung di tiga provinsi terdampak.
Selain dibangun langsung oleh BNPB dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), warga juga bisa memilih opsi sewa kontrak atau tinggal sementara di rumah keluarga.
Pemerintah menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH) Rp600 ribu per bulan, diberikan sekaligus Rp1,8 juta untuk tiga bulan pertama. Bantuan ini dilengkapi perabotan dan stimulan ekonomi agar warga bisa cepat kembali mandiri.
Satgas PRR juga fokus pada pembangunan hunian tetap (huntap) dengan target 15.719 unit. Progres pembangunan di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh terus berjalan positif.
Untuk rumah rusak berat, warga di lokasi aman bisa membangun kembali di tanah sendiri, sementara yang tinggal di zona rawan disediakan relokasi berkelompok dalam satu kompleks oleh Kementerian PKP.
"Untuk yang ingin berkelompok, satu kompleks, dibangunkan oleh Kementerian PKP," kata Tito.
Kolaborasi antara Satgas PRR, kementerian terkait, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar seluruh target hunian terpenuhi dan pemulihan ekonomi masyarakat Sumatera bisa berjalan lancar.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026